Kebiasaan Buruk yang Sering Dilakukan Orang Indonesia

Kebiasaan Buruk yang Kerap Terjadi di Indonesia

Indonesia, sebuah Negara kepulauan yang memiliki jumlah penduduk tak kurang dari 280 juta manusia merupakan sesuatu yang pantas diperbincangkan. Sebagian besar wilayahnya terdiri dari lautan yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Di dalamnya terdapat ratusan suku dan budaya yang berbeda-beda dengan berbagai bahasa yang berbeda pula.

Dari segi sumber daya alam, tak diragukan lagi bahwa Indonesia memilikinya lebih dari cukup. Keanekaragaman flora dan fauna, keberadaan hutan yang sangat luas dan dikatakan sebagai paru-paru dunia, serta melimpahnya hasil bumi sudah cukup untuk menjelaskan betapa kayanya Negara ini. Andai saja hal ini dikelola dengan baik, saya sangat yakin bahwa Indonesia akan menjadi salah satu Negara maju dalam waktu singkat.

Meski begitu, kekuranga-kekurangan dari suatu masyarakat pasti selalu ada. Tak butuh waktu lama bagi kita untuk menemukan kekurangan-kekurangan tersebut dalam sekali pengamatan. Apa saja ‘kah itu?


1. Budaya Terlambat


Entah mulai kapan, budaya terlambat di Indonesia sudah menjadi kebiasaan yang tertanam dalam masyarakat. Coba anda amati peristiwa-peristiwa di sekitar anda, baik di lingkungan, sekolah, maupun dalam acara-acara tertentu pasti ada saja orang yang terlambat dengan berbagai alasan yang ia bawa. Bahkan, sering disiarkan dalam berita televisi bahwa DPR 'pun seringkali terlambat saat menghadiri rapat yang menyangkut keberlangsungan negeri ini. Meski hanya sebagian kecil, dan mugkin dapat dihitung dengan satu tangan tapi tentu hal ini wajib diperhatikan, sebab keterlambatan satu orang dapat memicu orang lain yang melihatnya berpikiran bahwa terlambat merupakan hal yang wajar kemudia menyebar dan menjadi kebiasaan. Tentu budaya ini tidak selalu terjadi di masyarakat, namun ada baiknya jika kita mengantisipasi hal ini sejak dini.

2. Berlebihan dalam Menggunakan Klakson Saat Berkendara


Sejatinya keberadaan klakson digunakan untuk memperingatkan pengendara lain dalam kondisi tertentu. Masalahnya adalah, kondisi seperti apa yang memperbolehkan seseorang menyalakan klakson tidak memiliki ketentuan yang jelas, meskipun mungkin membuat aturan mengenai klakson sepertinya akan sangat sulit untuk dibuat. Namun bebas bukan berarti berlebihan. Saya sering menemui seorang pengendara yang selalu menyalakan klakson saat ia ingin menyelip kendaraan di depannya. Karena takut tak jarang pengendara lain berusaha mengalah dengan memperlambat kendaraan dan agak minggir ke tepi jalan. maksudnya apa coba?  emang jalan itu milik dia sendiri apa?...

Pernah juga ada peristiwa seseorang berhenti di trafic light, saat lampu masih menyala merah dari belakang terdengar klakson yang sangat kencang, sontak pengendara paling depan merasa panik dan akhirnya menerobos lampu merah tersebut. Dalam hal ini jikalau terjadi kecelakaan siapa yang disalahkan?... Itulah mengapa di beberapa Negara maju seperti Jepang, membunyikan klakson dianggap sesuatu yang tidak sopan.

3. Terlalu Memuja Produk Luar


Salah satu penyebab lambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah kurangnya apresiasi masyarakat terhadap produk lokal. Padahal, dari segi kualitas mungkin saja produk lokal lebih baik dengan harga yang lebih murah. Kenyataannya, bagi mereka produk berlabel impor memiliki daya tarik tersendiri, lebih kekinian dan lebih keren saat dipamerkan ke teman-teman mereka. Dengan ini tak heran beberapa orang menganggap produk mereka tidak diakui oleh negaranya sendiri dan mulai memasarkan produk mereka ke luar Negeri dengan membawa nama brand khas luar juga. Setelah itu apa yang terjadi? masyarakat mulai membeli produk-produk yang dianggap dari luar Negeri tersebut membangga-banggakannya, sedangkan kenyataannya produk itu sebenarnya milik negaranya sendiri, Ah sudahlah...

4. Malas Membaca


Pepatah mengatakan bahwa membaca adalah jendela pengetahuan, artinya dengan lebih banyak membaca maka akan lebih banyak pengetahuan yang didapat dan diamalkan. Saking pentingnya  membaca, bahkan ayat pertama yang diturunkan di dalam kitab suci umat islam, Al-Qur'an adalah"Iqro'" yang Berarti "Bacalah". Meski bukan pekerjaan sulit, namun bagi sebagian orang (termasuk saya) membaca seakan sangat berat untuk dilakukan dengan berbagai alasan seperti tidak ada waktu dan sebagainya. Hal ini berarti masyarakat masih menganggam membaca sebagai kegiatan sampingan, bukan merupakan kebutuhan.

5. Terlalu Dimanjakan Teknologi


Perkembangan teknologi yang sangat pesat merupakan pertanda baik bagi manusia, hal ini berarti peradaban mengalami kemajuan dan tidak berhenti di tempat. Banyak sekali manfaat yang dapat diambil dari teknologi, salah satunya adalah akses informasi yang lebih mudah dan cepat dengan biaya yang seminimal mungkin. Bagi seseorang yang memanfaatkannnya dengan baik, teknologi bahkan dapat menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan. Tapi bagai sebuah matau uang koin, setiap sisi positif pasti memiliki sisi negatif yang berjalan beriringan.

Beberapa waktu yang lalu, pemerintah gencar-gencarnya melakukan sosialisasi terhadap berita hoax. Tak jarang masyarakat menyimpulkan sebuah berita yang ia terima tanpa mengetahui kevalidan berita tersebut benar atau tidak. Akibbatnya, banyak konflik dan fitnah menyebar di masyarakat. Selain itu, ada juga peristiwa menggelikan yang sempat menjadi trending topik di instagram, dimana seorang ibu-ibu curhat merasa keberadaannya sebagai ibu rumah tangga tergantikan oleh adanya smartphone. Suaminya lebih mementingkan handphone dari pada istrinya, bahkan ada suami yang kecanduan game online dan lupa mencari nafkah untuk keluarganya... Nah, gawat juga kan!

Dari beberapa kebiasaan di atas, mana yang sering kamu lakukan? Tulis di kolom komentar ya!

Demikian artikel mengenai "Kebiasaan Buruk Masyarakat Indonesia Dalam Berbagai Bidang". Apabila informasi ini bermanfaat, silahkan bagikan artikel ini ke teman-teman kalian. Terimakasih

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel