Mandi Wajib: Niat, Rukun dan Tata Cara Lengkap

Seorang muslim pasti sudah tidak asing dengan yang namanya mandi besar atau mandi wajib. Mandi wajib adalah mandi yang harus dilakukan seorang muslim guna menghilangkan hadast besar.

Mandi besar seringkali disamakan dengan mandi junub. Meski tidak sepenuhnya salah, tetapi secara istilah keduanya memiliki beberapa perbedaan.

Perbedaan Mandi Besar dan Mandi Junub

Mandi janabah/junub diperuntukkan bagi mereka yang dalam keadaan junub. Disebut junub ketika seseorang mengalami salah satu dari dua hal, yaitu:
  1. keluarnya mani dari alat kelamin laki-laki atau perempuan, baik karena mimpi basah, mempermainkannya, ataupun gairah yang ditimbulkan penglihatan atau pikiran.
  2. Jimak atau berhubungan seksual, meskipun tidak mengeluarkan mani.
Sedangkan mandi besar memiliki ruang lingkup yang lebih luas. Seseorang harus mandi besar ketika:
  1. Junub (keluar mani dan berhubungan badan), 
  2. Haid (datang bulan), 
  3. Nifas (mengeluarkan darah setelah melahirkan) , 
  4. Melahirkan, dan
  5. Meninggal (bukan mati sahid)




Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa junub adalah bagian dari mandi besar, tetapi mandi besar bukan berarti mandi junub karena ada 4 kondisi lain yang tidak termasuk didalamnya.

Kenapa Harus Mandi Besar?

Seseorang masih dalam keadaan berhadats dan belum mandi besar dilarang melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tidak boleh dilakukan oleh orang yang berhadats besar seperti shalat, thawaf, membaca, menyentuh dan membawa Al-Qur’an dan lain sebagainya.

Rukun Mandi Besar

Dalam melaksanakan mandi besar, ada 2 rukun atau kefardluan yang harus kita penuhi. Rukun pertama adalah niat, dan kedua meratakan air ke seluruh tubuh.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Syekh Salim bin Sumair Al-Hadlrami dalam kitabnya Safiinatun Najaa:
“Fardlu atau rukunnya mandi ada dua, yakni niat dan meratakan air ke seluruh tubuh.”
Jika kedua rukun tersebut tidak terpenuhi secara sempurna, maka mandi besar yang kita lakukan tidak sah dan masih dianggap berhadats sehingga dilarang melakukan aktivitas tertentu.




Niat Mandi Besar


Lafal Arab

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَكْبَرِ فَرْضًا  لِلّٰهِ تَعَالَى

Lafal latin dan Artinya:

“Nawaitul Ghusla Lifrafil Hadatsil Akbari Fardhan Lillahi Ta’aala.”
“Aku berniat mandi besar untuk menghilangkan hadats besar fardhu karena Allah ta’aala.”

Tata Cara Mandi Besar?

  1. Mengucapkan niat mandi besar baik di dalam hati atau secara lisan sembari menuangkan air ke anggota badan. Anggota badan yang pertama kali di siram ini boleh yang manapun, baik bagian atas, bawah ataupun tengah. Bila pada saat pertama kali meyiramkan air ke salah satu anggota badan tidak dibarengi dengan niat, maka anggota badan tersebut harus disiram lagi mengingat siraman yang pertama tidak dianggap masuk pada aktifitas mandi besar.
  2. Meratakan air ke bagian luar seluruh anggota badan. Bila ada sedikit saja bagian tubuh yang belum terkena air maka mandi yang dilakukan belum dianggap sah dan orang tersebut dianggap masih dalam keadaan berhadats.




Beberapa bagian tubuh yang seringkali lalai kita basuh adalah:
  • Lipatan-lipatan badan pada seseorang berbadan gemuk, 
  • Kulit dan kotoran yang ada di bawah kuku yang panjang, 
  • Bagian belakang telinga dan bagian depannya yang berlekuk-lekuk, Selangkangan kedua paha, 
  • Sela-sela antara dua pantat yang saling menempel, 
  • Kulit dada yang berada di bawah payudara yang menggantung, dan
  • Kulit kepala yang berada di bawah rambut yang tebal.

Sunnah Dalam Melaksanakan Mandi Besar

  1. Membaca bismillah.
  2. Berwudhu sebelum mandi.
  3. Menggosokkan tangan keseluruh tubuh.
  4. Tidak memutus aliran air pada badan pada saat meratakannya.
  5. Mendahulukan bagian tubuh sebelah kanan.

Wallahu A'lam Bisshawab.

Sumber:
  • islam.nu.or.id
  • qazwa.id
  • hasana.id

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel